Kamis, 03 Desember 2015

Kenapa Bisa Gagal di Bisnis MLM? Part 2

Kenapa Bisa Gagal di Bisnis MLM? Part 2

2. MARKETING PLAN YANG BERPIHAK KEPADA PERUSAHAAN


Faktor yang kedua yang membuat member MLM gagal adalah akibat pengusaha menciptakan sistem marketing plan yang berpihak kepada pengusaha MLM,



A. Pembayaran bonus terlalu lama

Rata-rata penghasilan masyarakat Indonesia lebih kecil daripada kebutuhannya seperti gambaran berikut ini:

Sebenarnya masyarakat tidak memiliki cukup uang untuk berinvestasi awal dalam pengembangan jaringan, akan tetapi karena iming-iming kemewahan pada tahap awal dimana seolah-olah kemewahan tersebut sangat mudah dan cepat untuk diperoleh, maka member berani untuk melakukan investasi pengembangan jaringan.

Ilustrasi berikut dapat memberikan penjelasan terhadap gambaran di atas yang merupakan rician pengeluaran biaya operasional member setiap bulan

pada bulan I
Pendaftaran + pembelian produk Rp. 300.000
Tutup poin rp 350.000,- Jika tidak tutup poin maka member tidak memperoleh bonus meskipun memiliki omzet
Biaya operasional setiap hari selama melakukan aktivitas sebagai member rata-rata 20.000 Total biaya setiap hari selama 55 hari sebelum member akhirnya memperoleh bonus sebesar 1.100.000maka total biaya operasional adalah 1.750.000,
pada akhir bulan berikutnya member memperoleh bonus 200.000
maka kerugian member sebesar 1.550.000

pada bulan II
Biaya operasional sama seperti pada bulan sebelumnya yaitu 1.750.000
pada akhir bulan member memiliki kenaikan bonus sehingga bonusnya menjadi 500.000
maka pada bulan kedua kerugian member 1.250.000

pada bulan III
biaya operasional naik menjadi 2.000.000 karena jaringan sudah mulai tersebar dan berkembang
Bonus member di bulan tersebut naik menjadi 750.000
member mengalami kerugian sebesar 1.250.000

dalam tiga tahap di atas seorang member di perusahan MLM telah mengalami kerugian sebesar 4.050.000

Member selama tiga bulan mau menjalani bisnis MLM dengan mengalami kerugian karena dijanjikan kemewahan-kemewahan, tiga bulan pertama baru disadari oleh member bahwa untuk memperoleh semua kemewahan tersebut harus memiliki modal keuangan yang baik.

Selama tiga bulan pertama menjalankan bisnisnya member menjadi salesman dengan menjual produk-produk tutup poin untuk menutupi kebutuhan dan kerugian. Selanjutnya member berhenti dan berpikir bahwa bisnis MLM adalah bisnis pembohongan, padahal yang terjadi sebenarnya adalah karena sistem pembayaran bonus tersebut tidak sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat INdonesia dan semua kemewahan yang dijanjikan adalah hasil akhir.

SARAN : Jika penghasilan lebih kecil dari pengeluaran, maka pembayaran yang terlalu lama tidak cocok untuk masyarakat Indonesia.

B. TUTUP POIN

Salah satu faktor kegagalan utama member MLM adalah aturan tutup poin. Pengertian tutup poin bagi member adalah sebagai berikut:
 
1.      Tutup poin adalah salah satu aturan yang ditetapkan oleh perusahaan bagi member untuk belanja ulang
2.      Tutup poin menjadi salah satu syarat untuk memperoleh bonus. Berapapun omzet seseorang member tidak akan memperoleh bonus jika tidak melakukan tutup poin.
3.      Nilai tutup poin di tahap awal sebagai member jauh lebih besar dari bonus member itu sendiri
4.      Tutup poin mengakibatkan member menjadi seorang salesman

Belanja ulang yang menjadi syarat agar memperoleh bonus dengan alasan apapun merupakan ketidak adilan bagi member MLM. Sebenarnya syarat untuk memperoleh bonus adalah member bekerja dan memberikan omzet. Selama puluhan tahun, perusahaan MLM di Indonesia membuat tutup poin menjadi sebuah keharusan, padahal hal tersebut merupakan ketidak adilan bagi seluruh member.

Setiap member MLM haruslan menjadi konsumen dan wajah dari produk-produk MLM dengan selalu melakukan belanja ulang produk. Akan tetapi belanja ulang haruslah dilakukan dengan aturan yang manusiawi dan benar dimana belanja ulang dilakukan member setelah member tersebut memperoleh bonus dan nilai keharusan belanja ulang member harus lebih kecil daripada bonus member.

SARAN : Jangan pernah mau bergabung dengan sebuah perusahaan MLM yang menetapkan syarat belanja ulang (tutup poin) untuk memperoleh bonus.

C. Jenis bonus yang terlalu banyak dan perhitungan bonus yang terlalu rumit

Ga perlu serumit ini untuk dapat uang

Perusahaan MLM sangat senang menciptakan banyak jenis bonus yang disertai perhitungan yang sangat rumit. Jenis bonus yang banyak di perusahaan MLM tidak berhubungan dengan besar kecilnya bonus-bonus member, karena sebenarnya besar kecilnya bonus member tergantung dari total omzet yang diperoleh member tersebut dalam kurun waktu tertentu.

Perhitungan bonus yang rumit dengan banyaknya parameter perhitungan seperti:
            Nilai poin produk, presentasi peringkat, perhitungan jumlah poin grup front line,
            Perhitungan tutup poin pribadi, perhitungan tutup poin seluruh jaringan
            Perhitungan total seluruh omzet perusahaan dll
akan membuat member tidak mampu menghitung bonusnya sendiri sebelum diberitahu oleh perusahaan. Hal ini akan mengakibatkan kurangnya transparansi perhitungan bonus member dan sulitnya melakukan kontrol biaya membangun jaringan.
  • Semakin banyak jenis bonus dan semakin sulit perhitungan bonus akan semakin membuka peluang perusahaan MLM untukmenetapkan sayarat-syarat yang tidak diketahui member
  • Semakin banyak jenis dan sulitnya perhitungan bonus akan menyebabkan setiap member perusahaan mengetahui total nilai bonus sebelum memperoleh statement bonus dari perusahaan.
  • Semakin banyak jenis bonus dan sulit perhitungan bonus akan semakin menyulitkan member untuk melakukan presentasi, sehingga isi presentasi tidak jauh dari iming-iming dan janji kemewahan.

Sebenarnya member memperoleh bonus jika memberikan omzet ke perusahaan. Ada tiga jenis omzet yang diberikan oleh member kepada perusahaan multilevel marketing yang berarti hanya ada tiga jenis bonus.
  1. Member mengajak orang lain untuk menjadi konsumen produk multilevel marketing, dimana yang diajak membeli produk dari perusahaan MLM. Bonus ini sering kita sebut dengan bonus mengajak (sponsoring).
  2.  Member mengajarkan dan membina jaringan (downline agar downline mampu mengajak orang lain untuk membeli produk perusahaan MLM. Bonus ini disebut dengan bonus perkembangan jaringan atau bonus kepemimpinan
  3.  Member dan seluruh jaringannya melakukan belanja ulang. Bonus ini disebut dengan bonus belanja ulang.


Jika member mampu menjual prduk secara langsung kepada masyarakat dan member memperoleh keuntungan dari penjualan tersebut sebenarnya itu bukanlah bonus karena semua sistem akan memperoleh keuntungan jika mampu menjual secara langsung produk.

Saran : Semakin sederhana jenis dan perhitungan bonus, maka semakin mudah bagi member untuk melakukan kontrolling sehingga tidak merasa tertipu dengan syarat-syarat yang akan diketahui ketika sistem sudah berjalan.

3. MENJADI MEMBER PERUSAHAAN MONEY GAME


Perusahaan money game adalah sebuah perusahaan pembohong yang akan merugikan member dan seluruh masyarakat karena member yang bergabung tidak mendapat produk senilai uang yang telah disetorkan oleh member yang bersangkutan. Setiap member yang bergabung di perusahaan multilevel marketing tidak boleh dirugikan karena HARUS memperoleh produk senilai uang yang telah diberikan kepada perusahaan.



Beberapa hal yang harus diketahui mengenai perusahaan money game:

1. Perusahaan money game pasti merugikan semua member dan tutup
2. Pertanggung jawaban uang dan moral kepada setiap orang yang bergabung ada pada member yang mengajak bergabung ke perusahaan money game, dimana keuntungan tidak sesuai dengan resikonya.

SARAN : JANGAN PERNAH BERGABUNG MENJADI MEMBER PERUSAHAAN MONEY GAME

4. MENGIKUTI AJAKAN PETUALANG-PETUALANG BISNIS MLM


Untuk sukses di bisnis MLM, salah satu hal terpenting adalah harus memiliki pemimpin (LEADER) yang bertanggung jawab, memiliki integritas, memiliki kejujuran, memiliki komitmen untuk membawa seluruh jaringannya ke puncak kesuksesan tanpa mengorbankan jaringannya dengan alasan-alasan yang tidak realistis.
Saat ini di Indonesia sangat banyak petualang-petualang bisnis MLM yang akan mengorbankan masyarakat demi kepentingan pribadinya.

Ciri-Ciri petualang Bisnis MLM:
  1. Selalu berganti-ganti perusahaan tanpa alasan yang jelas dan berbicara negatif tentang perusahaan sebelumnya.
  2. Selalu mengaku pelaku bisnis MLM yang berpengalaman karena sering berpindah MLM padahal belum pernah sukses sama sekali dan hanya menjadi korban dan objek perusahaan.
  3. Mengorbankan seluruh jaringannya demi kepentingan pribadi dengan memberikan iming-iming kepada calon member



SARAN : Hati-hati dengan petualang MLM dan jangan pernah mau di ajak untuk menjadi downlinenya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar